Jumat, 22 Juli 2011

FISIOTERAPI
PADA REMATIC ARTHRITIS WRIST JOINT
A.    PENDAHULUAN
Tangan merupakan organ yang paling penting terutama orang yang bekerja yang berdominan dengan tangan. Dalam kehidupan sehari-haripun kita tidak lepas dengan kegiatan yang berhubungan dengan tangan, sehingga tidak sedikit orang yang mengalami kelainan akibat penggunaan yang berlebihan.
Artritis rheumatoid adalah gangguan kronik yang menyerang berbagai system organ, salah satu sekelompok penyakit jaringan penyambung yang diperantarai oleh imunitas dan tidak diketahui sebab-sebabnya menurut ( Sylvia A. Price dan Lorraine M. Wilson ) penyakit Artristik rheumatoid ini banyak menyerang wanita dari pada pria.
Penyakit Arthritis rheumatoid ini tidak dapat ditujukan memiliki hubungan pasti dengan genetic, menurut Sylvia A. Price Hipotesis terbaru tentang penyebab dari penyakit ini adalah adanya factor genetic yang akan menjurus pada perkembangan penyakit setelah terjangkit beberapa penyakit virus.
1. Etiologi
Penyebab dari rematic arthrictis masih belum diketahui walaupun banyak hal mengenai patogenesisnya telah lengkap. Penyakit ini memiliki 3 hipotesis (Rematologi) :
-          Teori genetik : HLA-DWA dan HLA_DRS pada orang kuliut putih.
-          Teorei infeksi : Infeksi oleh mycoplasma, virus. Seperti Epstein-Barr virus.
-          Teori autoimmune : Ditemukan penurunan jumlah dan fungsi OKT5
2. Patologi
Lesi utama adalah Synovitis Erosiva dengan pannus yang kaya akan sel menginvasi cartilago dan tulang.
3. Tanda dan gejala
  1. Gambaran Umum
Gejala-gejala konstitusional :
1.      Lelah, berat badan menurun dan demam
2.      Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer, namun biasanya tidak  melibatkan sendi-sendi interpalang distal
3.      Kekakuan dipagi hari lebih dari 1 jam
4.      Artithritis erosit
5.      Deformitas
6.      Nedula-nedula Reumatoid adalah masa subkutan yang ditemukan pada 1/ 3 orang    dewasa penderita Artithritis Reumatic.
  1. Gambaran Radiologik
Pada tahap awal penyakit ini, biasanya tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan radiologi kecuali pembengkakan jaringan lunak. Tetapi setelah sendi mengalami kerusakan yang lebih berat, dapat terlihat penyempitan ruang sendi karena hilangnya tulang rawan sendi.
B.     ANATOMI DAN FISIOLOGI TERAPAN
Penyebab dari artritis rheumatoid masih belum diketahui walaupun banyak orang yang mengalami penyakit ini. Sehubungan dengan kerumitan susunan pergelangan tangan, dan tangan di bagi kedalam beberapa daerah tersendiri :
a.       Sendi radio-ulner distal
b.      Carpus ( sendi radio karpal dan sendi-sendi interkarpal )
c.       Ibu jari tangan
d.      Tangan bagian tengah serta jari-jari
1. Sendi
Sendi-sendinya: sendi karpometa karpal, sendi meta karpol falangeal, sendi interfalangeal proksimal, sendi interfalangeal distal, sendi interfalangeal.
2. Tulang
Tulang-tulang pangkal tangan susunannya membusur dengan bagian konkafnya menghadap kearah telapak tangan. Ruangan ini tertudung oleh ligamentum carpi transversum, sehingga terbentuk suatu terusan yang sempit yaitu terowongan karpal. Terowongan karpal ini mengandung banyak struktur yaitu :
-          m. extensor carpi radialis longus
-          m. extensor carpi radialis brevis
-          m. extensor carpi ulnaris
-          m. flexor carpi radialis
-          m. flexor carpi ulnaris


a)      Karpalia (Tl pergelangan tangan)
1)      Bagian proksimal : os navikular (TL berbentuk bulan sabit), os triquetrum (TL berbentuk segitiga ), os fisiformis (TL berbentuk kacang)
2)     Bagian distal : os trapesium (TL besar bersegi banyak), os trapezoid ( TL kecil segi banyak), os kapitatum (TL berkepala),  os hamatum (TL berkulit)
b)      Meta Karpalia (TL Telapak tangan)
Terdiri dari tulang pipa pendek banyaknya 5 buah setiap batang mempunyai dua ujung yang bersendi dengan tulang karpalia dan bersendi dengan falangus.
c)      Falangus (TL Jari tangan )
Terdiri dari tulang pipa pendek banyaknya 14 buah dibentuk dalam 5 bagian tulang yang berhubungan dengan metakarpalia perantaraan persendian.

3. Otot
Otot-otot pergelangan tangan yang besar ada lima: tiga extensor (M. extensor carpi radialis longus, M. extensor carpi radialis brevis, M. extensor carpi ulnaris dan dua fleksor (M. fleksor carpi radialis, M. fleksor carpi ulnaris).
Otot-otot superfisal dari pergelangan tangan, dilihat dari segi dorsal.
APL          : m. abductor pollicis longus
EPB          : m. extensor pollicis brevis
EPL           : m. extensor pollicis radialis longus
ECRL       : m. extensor carpi radialis longus
ECRB       : m. extensor carpi radialis brevis
EDC          : m. extensor digicortum communis
EI              : m. extensor indicis
EDM         : m. extensor digi minimi
 Otot-otot superfisal pergelangan tangan dan tangan dilihat dari segi palmer.
FCR          : m. flexor carpi radialis
FCU          : m. flexor carpi ulnaris
PL             : m. Palmaris Longus
4. Syaraf
Saraf-saraf tangannya adalah nervus medianus, nervus ulnaris, dan nervus radialis. Nervus medialis melintas disebelah dalam retina culum flexorum dan melalui canalis carpi superficial terhadap tendo otot-otot fleksor panjang. Nervus ulnaris ditetapkan pada permukaan anterior retina culum flexorum oleh selembar fascia.
Arteri-arteri tangan, yakni arteria radialis dan arteria ulnaris. Arcus palmaris profundus yang terutama dibentuk oleh arteria radialis, terletak melintang diatas ossa metacarpi. Karena banyaknya arteri-arteri ditangan, terputusnya lengkung-lengkung arterial palmar menimbulkan perdarahan yang amat banyak.
C.    PEMERIKSAAN FISIOTERAPI
Pada pemeriksaan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional penderita melakukan aktivitas:
1.      ANAMNESIS
a.       Anamnesis Umum
Anamnesis umum dan anamnesis khusus meliputi : identitas dari pasien dan keluhan yang diderita oleh pasien. Pada umumnya pasien secara jelas akan menunjukkan dimana ada rasa sakit dan gerakan mana yang mengakibatkan rasa sakit.
b.      Anamnesis Khusus
1)      Klasifikasi perkembangan reumatoid artritis:
·      Stadium 1, Dini
a)      Tidak terdapat perubahan destruktif, pada pemeriksaan roentgenografik
b)      Bukti osteoporosis mungkin terdapat secara roentgenologik
·      Stadium 2, Sedang
a)      Terdapat bukti osteoporosis secara roentgenologik
b)      Tidak terdapat deformitas sendi
c)      Terdapat atrofi pada otot – otot yang berdekatan
d)     Mungkin terdapat lesi jaringan lunak ekstra – artikular seperti nodul dan tenosinovitis
·      Stadium 3, Berat
a)      Terdapat destruksi tulang rawan dan tulang secara roentgenelogik disamping osteoporosis
b)      Deformitas sendi, seperti subluksasio, hiperekstensi, tanpa disertai antikilosis fibrotik
c)      Terdapat atrofi otot yang meluas
d)     Mungkin terdapat lesi jaringan lunak ekstra – artikular seperti nodul dan tenosinovitis
·      Stadium 4, Terminal
a)      Terdapat ankilosis fribotik dan ankilosis oseosa
b)      Kriteria stadium 3
2)      Klasifikasi kapasitas fungsional reumatoid artritis
a)      Kelas 1; kapasitas fungsional sempurna
b)      Kelas 2; kapasitas fungsional memadai untuk melakukan kegiatan normal, walaupun terdapat kesulitan berupa perasaan tidak nyaman atau keterbatasn gerak pada satu atau beberapa sendi.
c)      Kelas 3; kapasitas fungsional masih memadai hanya untuk melakukan beberapa atau tidak dapat melakukan pekerjaan sehari – hari.
d)     Kelas 4; sebagain besar atau seluruh pekerjaannya tidak mampu dikerjakan sendiri.

2.      INSPEKSI
Pada gangguan-gangguan yang sifatnya simetris seperti misalnya reumatiod arthritis terutama pada tahap permulaan kadang-kadang sulit untuk menemukan pembengkakan.
Reumatoid artritis akan mengakibatkan pembengkakan fisiform pada artikulasio interfalangeal selama masa akut penyakit. Kalau terjadi destruksi sendi pada tangan dan pergelangan tangan maka akan terjadi deformitas flipper dimana tengan berada dalam deviasi ulnaris dan jari – jari berada dalam keadaan fleksi pada artikulasio metakarpofalengea (Delp Mohlan, 1994).
3.      PEMERIKSAAN FUNGSI
Dalam melaksanakan pemeriksaan fungsi ini, kita mencoba untuk menguji struktur masing-masing sebaik mungkin. Bila perlu sendi-sendi jari masing-masing dapat diperiksa sehubungan dengan ada tidaknya pembatasan gerak. Arthritis dan arthrosis biasanya disertai oleh pembatasan gerak terutama pada fleksi.
Sendi radio-ulner : hanya ada rasa sakit pada pronasi dan supinasi yang maksimal, carpus : exstensi ( fleksi dorsal ) dan fleksi ( palmar ), ukuran terbatasnya sama.
D.    PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI
Pengobatan fisioterapi pada penyakit ini bertujuan untuk mengoptimalkan kapasitas fisik dan fungsional penderita dengan cara mangurangi atau menghilangkan keterbatasan luas gerak sendi. Untuk menangani masalah tersebut, modalitas fisioterapi yang digunakan adalah sebagai berikut :
1.      Persiapan pasien, alat :
persiapan segala sesuatu tentang pasien dari segi tempat dan sebagainya, persiapan alat meliputi segala sesuatu yang akan digunakan oleh fisioterapis untuk melakukan penanganan.
2.      Pelaksanaan terapi :
a)      Hidroterapi dengan Paraffin
Dengan menggunakan Paraffin ini bertujuan untuk vasodilatasi dan mengurangi tonus otot.
b)      Massage dengan:
1.      Stroking
Merupakan teknik massage berupa gosokan tanpa tekanan dengan arah tidak beraturan, irama, ritmik. Stroking ini bertujuan untuk memberikan rangsangan pada sarat sensorik sehingga dapat mengakibatkan saraf mengalami daya akomodasi dan dapat mengurangi nyeri.
2.      Petrissage
Teknik massage dengan pemijatan dengan memegang jaringan lunak, berupa  : pegang, tekan, angkat, lepas.
Adalah salah satu tehnik petrissage dalam  massage yang bertujuan untuk melemaskan jaringan yang mengalami peningkatan tonus dan menambah fleksibilitas jaringan.
c)      Activity of Daily Living (ADL)
Tujuan tehnik ini adlah menambah LGS  dan memperoleh relaksasi otot antagonis dan memperbaiki kelainan fungsi yang ada.


KEPUSTAKAAN

De wolf  AN, Mens JMA. Pemeriksaan Alat Penggerak II .Bohn staflue Van  Loghum, Houten/zaventem, Houten/zaventem,1994.
Widodo  Agus, Makalah massage, Universitas Muhamadiyah Surakarta.
Pearce Evelyn C, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Gramedia , Jakarta, 1999.
Syaifuddin, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC, 1997.


disusun oleh : Agung Santosa Kurniawan 

1 komentar:

tulis komentar dan pertanyaan anda yang berkaitan dengan fisioterapi